TAMBO ALAM MINANGKABAU
Judul buku:
TAMBO ALAM MINANGKABAU,
Tatanan Adat Warisan Nenek Moyang Orang Minang
Penulis:
Ibrahim Datoek Sanggoeno Diradjo
Kertas isi: HVS 70 gr.
Cover: Artpaper 270 gr.
Ukuran: 14,5 x 21 cm
Jumlah hal.: xvi + 384 halaman
ISBN : 978-979-18327-2-4
Harga: Rp 90.000,-
Diterbitkan oleh:
Penerbit Buku Alam Minangkabau
”Kristal Multimedia”
Jln. Mangga No.5 Tangah Jua
Telp./Fax: (0752) - 33768
Bukittinggi 26131 - Sumatera Barat
Pelayanan online
sms/wa ke 085965808124
ADAT dapat berjalan dengan baik kalau ada yang mempertahankannya. Adapun yang dapat mempertahankan adat tersebut adalah orang-orang yang menjadi pemilik adat itu sendiri serta petunjuk-petunjuk yang mengatur adat itu sehingga dapat dijaga dan dievaluasi perjalanannya.
Tatanan Adat Minangkabau diyakini dapat menjadikan masyarakatnya menjadi orang-orang yang berakhlak, berbudi pekerti yang luhur, menghindari segala sesuatu yang melanggar ketentuan adat kesopanan seperti berbuat maksiat, berjudi, merampok dan lain-lain perbuatan yang akan mengganggu harga diri keluarga. Apabila adat itu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari Insya Allah dapat memberikan keselamatan dan kesentosaan bagi masyarakatnya.
Adat Nan Sabana Adat merupakan adat Minangkabau yang paling asli yang menjadi dasar penyusunan untuk tingkat adat di bawahnya. Adat ini didasarkan kepada ajaran agama ciptaan Yang Maha Kuasa dan ajaran alam (Alam takambang jadi guru) sehingga akhirnya menjadi falsafah hidup orang Minang:
"Adat basandi syarak, Syarak basandi Kitabullah
Syarak mangato, Adat mamakai."
PASAMBAHAN
Penyusun:
Jamilus Jamin - M. Dt. Mangkuto Rajo
Kertas isi: HVS 70 gr.
Cover: Artpaper 210 gr.
Ukuran: 11 x 16 cm
Jumlah hal.: 192 halaman
Harga Rp 30.000,-
Diterbitkan oleh:
Penerbit Buku Alam Minangkabau
”Kristal Multimedia”
Jln. Mangga No.5 Tangah Jua
Telp./Fax: (0752) - 33768
Bukittinggi 26131 - Sumatera Barat
Pelayanan online
sms/wa ke 085965808124
Sambah-manyambah adalah satu tata cara menurut adat istiadat Minangkabau, yang mengatur tata tertib dan sopan santun pembicaraan orang dalam sebuah pertemuan. Kata-kata sambah yang dalam bahasa Indonesia berarti sembah, diambil dari semacam sikap awal yang dilakukan oleh setiap orang yang akan melaksanakan pasambahan. Sebelum memulai pembicaraannya ia harus terlebih dahulu mengangkat dan mempertemukan kedua telapak tangannya lurus diantara kening dan hidung bagaikan orang menyembah. Begitu pula sebaliknya sikap yang dilakukan lawan bicara ketika menerima sembah. Sikap ini saja sudah menjelaskan intu hakikat dari acara tersebut, yaitu bagaimana masing-masing pihak yang bertemu dalam satu pertemuan bisa saling menghormati saling memperlihatkan adat sopan santun dan budi bahasa yang baik, termasuk dalam mengatur kata-kata yang akan diucapkan.
SUMARAK NAGARI
Judul buku:
SUMARAK NAGARI,
Alur Pasambahan dan Pidato Adat Minangkabau
Penyusun:
R. St. Tandiko - M.I. St. Rajo Batuah
Kertas isi: HVS 70 gr.
Cover: Artpaper 210 gr.
Ukuran: 11 x 16 cm
Jumlah hal.: 184 halaman
Harga Rp 30.000,-
Diterbitkan oleh:
Penerbit Buku Alam Minangkabau
”Kristal Multimedia”
Jln. Mangga No.5 Tangah Jua
Telp./Fax: (0752) - 33768
Bukittinggi 26131 - Sumatera Barat
Pelayanan online
sms/wa ke 085965808124
Sambah-manyambah adalah satu tata cara menurut adat istiadat Minangkabau, yang mengatur tata tertib dan sopan santun pembicaraan orang dalam sebuah pertemuan. Kata-kata sambah yang dalam bahasa Indonesia berarti sembah, diambil dari semacam sikap awal yang dilakukan oleh setiap orang yang akan melaksanakan pasambahan. Sebelum memulai pembicaraannya ia harus terlebih dahulu mengangkat dan mempertemukan kedua telapak tangannya lurus diantara kening dan hidung bagaikan orang menyembah. Begitu pula sebaliknya sikap yang dilakukan lawan bicara ketika menerima sembah. Sikap ini saja sudah menjelaskan intu hakikat dari acara tersebut, yaitu bagaimana masing-masing pihak yang bertemu dalam satu pertemuan bisa saling menghormati saling memperlihatkan adat sopan santun dan budi bahasa yang baik, termasuk dalam mengatur kata-kata yang akan diucapkan.
KABA ANGGUN NAN TONGGA
Judul buku:
Anggun Nan Tongga
Pengarang:
Ambas Mahkota
Kertas isi: HVS 70 gr.
Cover: Artpaper 210 gr.
Ukuran: 11 x 16 cm
Jumlah hal.: 184 halaman
Harga Rp 30.000,-
Diterbitkan oleh:
Penerbit Buku Alam Minangkabau
”Kristal Multimedia”
Jln. Mangga No.5 Tangah Jua
Telp./Fax: (0752) - 33768
Bukittinggi 26131 - Sumatera Barat
Pelayanan online
sms/wa ke 085965808124
Di jorong Kampung Dalam, Pariaman hiduplah seorang pemuda bernama Anggun Nan Tongga, yang juga dipanggil Magek Jabang dan bergelar Magek Durahman. Ibunya Ganto Pamai wafat tak lama setelah melahirkan Nan Tongga, sedangkan ayahnya pergi bertarak ke Gunung Ledang. Ia diasuh saudara perempuan ibunya yang bernama Suto Suri. Sejak kecil Nan Tongga sudah dijodohkan dengan Puti Gondoriah, anak mamaknya. Nan Tongga tumbuh menjadi pemuda tampan dan cerdas. Ia mahir berkuda, silat, dan pandai mengaji Quran serta dalam ilmu agamanya.
Pada suatu hari terdengar kabar bahwa di Sungai Garinggiang Nangkodoh Baha membuka gelanggang untuk mencari suami bagi adiknya, Intan Korong. Nan Tongga minta izin pada mandeh Suto Suri untuk ikut serta. Pada awalnya mandeh Suto Suri tidak setuju, karena Nan Tongga sudah bertunangan dengan Puti Gondoriah. namun akhirnya ia mengalah.
Di gelanggang Nan Tongga berhasil mengalahkan Nangkodo Baha pada tiap permainan: menyabung ayam, menembak maupun catur. Berang dan malu karena kekalahannya Nangkodoh Baha mengejek Nan Tongga karena membiarkan ketiga mamaknya ditawan bajak laut di pulau Binuang Sati. Mendengar kabar ini Nan Tongga pulang dengan hati sedih.
Nan Tongga bertekad untuk merantau mencari mamak-mamaknya Mangkudun Sati, Nangkodoh Rajo dan Katik Intan. Sebelum pergi ia minta izin pada mandeh Suto Suri dan tunangannya Puti Gondoriah. Gondoriah meminta Nan Tongga membawakannya benda-benda dan hewan-hewan langka sebanyak 120 buah. Beberapa di antaranya adalah seekor burung nuri yang bisa berbicara, beruk yang pandai bermain kecapi, kain cindai yang 'tak basah oleh air, berjambul suto kuning, dikembang selebar alam, dilipat sebesar kuku, disimpan dalam telur burung'.
Nan Tongga berangkat berlayar dengan kapal bernama Dandang Panjang, ditemani pembantu setianya Bujang Selamat. Nakhodanya bernama Malin Cik Ameh. Setelah berlayar beberapa lama akhirnya mereka sampai di pulau Binuang Sati. Nan Tongga menyuruh kapal berlabuh di sana. Utusan Palimo Bajau, raja Pulau Binuang Sati, datang untuk mengusir Nan Tongga, namun ia menolak. Dalam pertempuran yang pecah kemudian Bujang Selamat berhasil membunuh Palimo Bajau. Pulau Binuang Sati pun takluk.
Nan Tongga menemukan salah seorang mamaknya, Nangkodoh Rajo, dikurung dalam kandang babi. Nangkodoh Rajo menceritakan bahwa kedua mamak Nan Tongga lainnya, Katik Intan dan Makhudum Sati berhasil meloloskan diri ketika pertempuran di laut dengan lanun anak buah Palimo Bajau. Ia juga memberitahukan bahwa burung nuri yang pandai berbicara ada di Kuala Koto Tanau. Kemudian Nan Tongga menyuruh Malin Cik Ameh pulang ke Pariaman menggunakan kapal rampasan dari Binuang Sati, dan memberi pesan ke kampung halaman bahwa Nangkodoh Rajo sudah dibebaskan. Ia sendiri berlayar dengan Dandang Panjang bersama Bujang Selamat ke Koto Tanau. Namun Malin Cik Ameh ketika bertemu Gondan Gondoriah ia terpesona pada kecantikan tunangan Nan Tongga itu. Ia lalu bercerita bahwa Nan Tongga ditawan oleh Palimo Bajau. Ia juga berkata Nan Tongga berpesan Malin Cik Ameh dijadikan pemimpin di kampungnya. Malin Cik Ameh lalu dirajakan di sana. Ia mengirim utusan untuk meminang Puti Gondoriah namun ditolak dengan alasan masih berduka atas tertangkapnya Nan Tongga.
Sementara itu di Koto Tanau Anggun Nan Tongga menemukan pamannya yang lain menjadi raja di sana. Putri pamannya Puti Andami Sutan memiliki seekor burung nuri yang pandai berbicara. Nan Tongga lalu mencoba meminta burung tersebut. Dengan halus Andami Sutan mengisyaratkan Nan Tongga hanya dapat mendapatkan burung nuri tersebut dengan mengawini dirinya. Tak dapat menemukan cara lain Nan Tongga pun menikahi putri tersebut.
Pada suatu ketika burung nuri memenuhi permintaan Puti Gondoriah untuk terbang ke Tiku Pariaman. Di sana ia menemui Puti Gondan Gondoriah yang gundah mendengar tunangannya menikah dengan Andami Sutan. Nan Tongga tidak dapat menahan rindunya pada kampung halaman dan tunangannya. Ia meninggalkan istrinya Andami Sutan yang sedang hamil. Ketika Gondan Gondoriah mendengar kabar bahwa Anggun Nan Tongga sudah pulang ia lari ke Gunung Ledang. Nan Tongga kemudian mengejar dan membujuknya
untuk pulang. Gondoriah akhirnya luluh hatinya dan kembali bersama Nan Tongga.
Sebelum menikah Nan Tongga dan Puti Gondoriah ditemani oleh Bujang Selamat pergi mencari Tuanku Haji Mudo untuk meminta restu. Namun Tuanku Haji Mudo berkata bahwa Nan Tongga dan Puti Gondoriah adalah saudara sepersusuan, karena Nan Tongga pernah menyusu pada ibu Puti Gondoriah. Menurut hukum Islam berarti Nan Tongga dan Puti Gondoriah tidak boleh menikah di dunia ini dan hanya dapat berjodoh di akhirat.
Karena belum juga pulang orang tua Nan Tongga dan Puti Gondoriah mengirim orang untuk mencari Nan Tongga dan Puti Gondoriah. Mereka menemukan Bujang Selamat yang mengabarkan bahwa Nan Tongga, Puti Gondoriah dan Tuanku Haji Mudo sudah naik ke langit.
KABA CINDUA MATO

Judul buku:
Cindua Mato
Pengarang:
Syamsuddin St. Radjo Endah
Kertas isi: HVS 70 gr.
Cover: Artpaper 210 gr.
Ukuran: 11 x 16 cm
Jumlah hal.: 168 halaman
Harga Rp 30.000,-
Diterbitkan oleh:
Penerbit Buku Alam Minangkabau
”Kristal Multimedia”
Jln. Mangga No.5 Tangah Jua
Telp./Fax: (0752) - 33768
Bukittinggi 26131 - Sumatera Barat
Pelayanan online
sms/wa ke 085965808124
Rajo Mudo, raja Sikalawi memutuskan pertunangan anaknya Puti Bungsu dengan Dang Tuanku raja Pagaruyung, dan berniat akan menjodohkan Putri Bungsu dengan Rajo Imbang Jayo.
Rencana Rajo Mudo ini sampai juga ke Pagaruyung dan membuat Bundo Kandung menjadi marah. Pihak istana Pagaruyung akhirnya mengutus Cindua Mato pergi ke Sikalawi untuk mengantarkan kerbau si Binuang sebagai sumbangan tanda ikut bergembira atas pernikahan tersebut.
Namun apa yang terjadi? Si Binuang dibawa kembali ke Pagaruyung dan Puti Bungsu pun ikut bersama Cindua Mato ke Padang Ganting.
KABA MAGEK MANANDIN

Judul buku:
Magek Manandin
Pengarang:
Sutan Pangaduan
Kertas isi: HVS 70 gr.
Cover: Artpaper 210 gr.
Ukuran: 11 x 16 cm
Jumlah hal.: 112 halaman
Harga Rp 20.000,-
Diterbitkan oleh:
Penerbit Buku Alam Minangkabau
”Kristal Multimedia”
Jln. Mangga No.5 Tangah Jua
Telp./Fax: (0752) - 33768
Bukittinggi 26131 - Sumatera Barat
Pelayanan online
sms/wa ke 085965808124
Bila malu telah tercoreng di kening yang memberi malu kepada kaum dan keluarganya, maka ninik mamak tampil ke depan. Ninik mamak berusaha agar malu tersebut dapat dihapus meskipun harus mengorbankan harta benda, bahkan nyawa sekalipun. Rajo Kuaso sangat terpukul melihat ulah perangai kemenakannya Magek Manandin yang dianggap sudah memberi malu kepada keluarganya. Tanpa usul dan periksa dia rela mencampakkan Magek Manandin ke dalam lurah yang sangat dalam.
KABA SITI BAHERAM
Judul buku:
Siti Baheram
Pengarang:
Syamsuddin St. Radjo Endah
Kertas isi: HVS 70 gr.
Cover: Artpaper 210 gr.
Ukuran: 11 x 16 cm
Jumlah hal.: 88 halaman
Harga Rp 18.000,-
Diterbitkan oleh:
Penerbit Buku Alam Minangkabau
”Kristal Multimedia”
Jln. Mangga No.5 Tangah Jua
Telp./Fax: (0752) - 33768
Bukittinggi 26131 - Sumatera Barat
Pelayanan online
sms/wa ke 085965808124
Kasih sayang yang sangat berlebihan kepada anak akan menjerumuskan sang anak kepada sikap dan perilaku yang buruk. Bahkan sang anak dapat menjadi anak yang durhaka. Itulah yang dialami oleh seorang mandeh atas kelakuan anaknya si Bujang Juki. Bahkan si Bujang Juki tega membunuh Siti Baheram – seorang ibu yang baik hati - yang sering memberikan bantuan kepadanya. Harta yang dirampas dari Siti Baheram dipergunakannya untuk berjudi.
KABA RANCAK DI LABUAH
Judul buku:
Rancak di Labuah
Pengarang:
Dt. Panduko Alam
Kertas isi: HVS 70 gr.
Cover: Artpaper 210 gr.
Ukuran: 11 x 16 cm
Jumlah hal.: 88 halaman
Harga Rp 18.000,-
Diterbitkan oleh:
Penerbit Buku Alam Minangkabau
”Kristal Multimedia”
Jln. Mangga No.5 Tangah Jua
Telp./Fax: (0752) - 33768
Bukittinggi 26131
Sumatera Barat
Pelayanan online
sms/wa ke 085965808124
Sesuai benar gelar dan perbuatannya, Rancak di Labuah sangat menikmati masa remajanya yang penuh dengan hura-hura. Dia pun terlupa dengan kondisi keluarganya yang jauh dari kecukupan. Berkat nasehat dan bimbingan mandehnya, Rancak di Labuah akhirnya menyadari segala kekeliruan yang telah dilakukannya selama ini.













